Reading
Add Comment
Kami memang mahasiswa hobi indekost, eh bukan hobi tapi kebutuhan nyatanya. karena kami memang mahasiswa rantau, jauh jauh menuntut ilmu, semoga nanti pulang ilmunya jadi bisa dipake bikin rumah, dan keluarga dan bahagia. Indahnya menjadi anak kost jauh dari orang tua yang suka menyuruh, oh ibu dan ayah bukan kami durhaka karena tidak mau disuruh tapi kami masih anak-anak masih ingin bermain, maka dari itu ngerti deh sama ego kami. Hehehe.... tapi kami sayang kalian kok dirumah. Sayang uang kalian juga. Terima kasih orang tua kami. Kalian tak tergantikan deh.
Saya kuliah di UPI Bandung ( UPI memang cuman ada di Bandung, kalo di Masaschusset mah MIT dong). Padahal saya tadinya mau kuliah di Unsoed ( Universitas Jenderal Soedirman, yang ada Purwokerto, “dan hallo meli, halo riska, halo risma, halo semuanya teman-teman yang kuliah di Unsoed semoga kalian senang kuliah disana” ), entah petunjuk apa sehingga saya berkuliah di UPI nyatanya yang saya tahu alasannya yaitu karena di Unsoed Panas sekali. Karena kami kost, aku dan Rizki ( oh kenapa aku sering sekali dengannya ya Alloh, apakah dia jodohku ? nyatanya tidak karena saya tidak mau menjadi laknat, lagi pula saya waktu itu sedang sayang sama seseorang. ) suka keluar malam. Rencana nya sih mau ketemu temen kita SMA, si Abuy, dia datang dari kampung halaman untuk ke Bandung menjeguk pacarnya sambil nyobain Bandung itu gimana sih. sebenarnya mau saya ajak dia ke Dapla alias Dago Plaza tapi tidak jadi karena saya bukan orang banyak uang.
Si Abuy katanya ada di kosan si sube, maka dari itu aku dan rizki menempuh perjalan panjang nan tak bertepi melewati malam yang gelap berharap bertemu kuntilanak dan Pocong Perpustakaan UPI . melewati kampus di malam hari, lewat UPInet ada orang-orang lagi WIFI-an, karena tidak punya modem dikosannya, kasihann ! padahal saya juga tidak punya. Dan sampai lah kita di Geger Kalong Girang, di kosan sube, kosannya belakang Isola Resort lah, daerah situ. Padahal deket kosan Si teh Ama temen sekelas saya, saya mau nyimpang tapi tidak baik loh malam-malam ke kosan perempuan. Lagi pula emang Ama mau nerima saya masuk kosannya. Hehehe... halo teh Ama... !.
Dan sampai kami di tempat tujuan, di Kosan sube yang megah, karena WC nya didalam. sementara kosan saya. Mau ke WC saja harus turun lewati lembah, bisa bahaya jika sedang emergency alias tajam ee’, bisa-bisa pada berjatuhan sebelum mencapai WC. ( jangan dibayangkan sodara-sodara !). Masuklah kami kedalam kosannya, dengan terlebih dahulu membuka alas kaki dan pintu.
“mana si Abuy” kata Rizki.
“di Kosan si ecuy jgana mah” kata si sube, ecuy pacarnya abuy dia juga sekolah di UPI, tapi saya tidak kenal, semoga suatu saat bisa kenalan deh.
“ wah ngapain tah ? “kata si rizki. Saya juga mau tanya ngapain ya ? ah paling biasa anak muda, udah tau lah kalo udah sama pacarnya. Makan, jalan, ngobrol, apa lagi coba.
Karena abuy tidak ada, ya kami tidak ketemu dengan Abuy, Abuy yang nama Sebenarnya Muhammad Ayub, badannya tinggi, dia pemain basket dan jago pula pantesan ecuy suka sama abuy, kan pemain basket itu macho, siapa sih gak mau jadi pacarnya pemain basket. Berbeda dengan saya yang kurus dan tidak terlalu tinggi, tapi tidak apa-apa lah saya ya saya. Terserah kalian mau apa, ngasih uang, ngasih hadiah, yang jelas saya pasti terima.
Ya udah di kosan jadi bertiga, aku, rizki bean, dan sube. Sebenarnya di komplek kosan itu ada teman saya, namanya Darra, dia sejurusan sama saya. Tapi beda kelas. Lagi pula saya tidak terlalu wawuh (wawuh itu akrab atau kenal ) jadi saya urungkan niat untuk masuk kekamar dan menyapa tentunya.
Kami mengobrol, Rizki dan Sube menyalakan Rokok dan menghisapnya tentu saja.
“cit udud atuh ?” sube menawarkan rokok pada saya,
“teu ah... moal udud urang mah...” kata saya, menolak. Kenapa saya tidak merokok karena waktu dulu saya merokok, sekarang tidak, karena saya ingin berbeda dan konsisten lah.
Kami mengobrol, datanglah Putra, teman rizki dan sube sejurusan dia orang Bandung, sementara kami betiga orang luar Bandung, kalian tidak usah tahu dari mana kami berasal. Kami bercakap-cakap bercanda bertawa merokok seolaholah ruangan dipenuhi kebakaran, dan lain-lain sampai suatu saat kami tertawa lepas dan membangunkan sang maha penguasa kosan si Sube, siapa lagi coba jika bukan Bapak Kos.
“tok tok tok” suara pintu diketok, mau di buka malah dibuka sama yang ngetuk, padahal saya mau bilang “pak jangan ngetok dulu deh kalo sekiranya pintunya mau dibukain sendiri, kan gak sopan”
Jengjengjeng.... aura kemarahan merangsek masuk kedalam kamar kosan, diiringi musik KEMATIAN !.
“PULANG KAMU !” Bapak kos membentak si Putra, karena memang dia tepat berada didepan mukanya, sementara saya dan rizki pura-pura tidur, sambil cengengesan. Dan sube malah ngaca sambil membenarkan rambutnya, dasar metroseksual !.
“KAMU KAN YANG TADI DISINI, KALIAN ITU TAMU HORMATI TETANGGA KALIAN, KALIAN MAU BIKIN FRONT ATAU APA, TIAP MALAM MAIN KESINI, KAMU PIKIR INI APA, INI KOSAN”
Putra kena marah, oh Putra jika saya bisa dan mempunyai kekuatan saya akan gantikan kamu menjadi yang kena bentak, tapi tidak mungkin, saya cari aman, pura-pura mati dan masuk surga ,biar bapak kos enggan menyalahkan saya, karena saya mati, kan gak baik menyalahkan orang mati, semetara rizki pura-pura mati juga tapi dia masuk neraka, dan tidak kena marah juga.
Putra kalang kabut, mukanya pucat pasi seperti melihat gedung FPIPS UPI roboh. Aku sih tidak, aku cuma diam dan cengengesan. Putra membantah dengan gayanya sendiri. Bapak kos memasang muka yang sepertinya baru dibelinya dari warung, ada KOYO menempel di jidatnya. Seolah-olah ingin mencirikan orang sakit, padahal itu menurut saya adalah CAPER alias cari perhatian sama istrinya biar diperhatiin biar dipeluk terus dikasih deh( ya ampun saya malah mengomentari orang ).
Bapak kost pergi ke sarangnya, kami menahan pahit getir bentakannya sehingga menciptakan efek euforia berkepanjangan dan berimplementasi menjad tawa tiada taraa, ya ! kami berusaha menahan tawa dan saling menyalahkan. Yang buat saya lucu adalah saya ketika Bapak itu bilang bikin FRONT, FRONT apa yang kami buat, sekelompok mahasiswa sosial serumpun angkatan satu membuat front. Oh saya kira jika saya mau menjelaskan, betapa tidak mudahnya membuat FRONT karena kau harus minta ijin rektor dulu kau harus punya struktur organisasi. Okey lah jika saya buat saya akan tunjuk Sube jadi ketua karena dia yang punya kosan, Putra wakilnya, Rizki menteri Pertambahan dan saya Menteri Perkebunan. Tapi nyatanya tidak mungkin saya seperti itu tidak ada waktu untuk membuatnya jadi saya urungkan saya.
Wahai teman-teman ku yang sangat saya kenal, seandainya saya dapat menceritakan nya lebih baik mungkin akan lebih menarik, toh nyatanya tidak keterbatasan ingatan yang membuat saya itu tidak mampu, jadi maaf. Malam itu saya harusnya sadar kita itu berada ditempat orang lain, dan kita memang seharunya tidak lancang dan harus menghormati. Nyatanya kami tidak, kami pemuda Indonesia Biasa, yang aktif dan suka presentasi tidak dapat menahan jiwa kami untuk ribut dan berbicara. Tapi alangkah lebih baik jika kita menjadi orang yang baik yang tidak boleh ribut apalagi sudah malam. Ya seperti itulah hidup saya, mahasiswa tidak berprestasi dan tidak apa apa, jika ada hal yang membuat kalian tidak suka, tolong lah maafkan saya. Saya hanya manusia yang mencita-citakan kebahagiaan, dan indahnya hidup yang sulit ini. Terima kasih dari kami yang tidak sengaja memerankan kisah tadi, tapi memang benar itu nyata adanya, PERCAYALAH ! aku sayang kamu.
apaaja
Gak penting
Tulisan
0 comments:
Post a Comment