DOKTRIN WARUNG KOPI

oleh : Saya


  1. Kamu tahu warung kopi ? iya warung yang menjual kopi padahal tidak, warung yang tukang bohong ngakunya jual kopi padahal jual STMJ juga Indomi, ada fanta sama coca-cola juga, tapi itu tidak penting namanya juga warung, boleh lah berbohong, tidak dapat dosa, tapi kalau kamu sebagai manusia ciptaan Tuhan jangan suka bohong ya !. Kembali ke warung kopi, saya tidak membahas subtansi dan dimensi serta struktur bangunan warung kopi tersebut, melainkan interaksi yang dilakukan orang orang yang ada disana, termasuk saya dan beberapa teman saya sudah pasti saya kenal dan baru saya kenal.

Itu adalah malam hari, saya adalah mahasiswa tingkat satu dimana saya yang bersekolah dikampus UPI Bandung, nyatanya sedang santai, mau-maunya menemani teman saya Rizki Bean berjalan menerobos gelap malam kampus sekedar untuk pergi ke Gerlong ( kamu tahu gerlong, iya itu Geger Kalong yang ada Aa beristri dua tapi sekarang sudah cerai, kasihannn ! L  ). Saya pake jaket denim, biar dikira preman, pake celana pangsi biar dikira pesilat, dan pake sendal capit biar dikira gak punya sepatu, semoga saja ada yang mau ngasih sepatu pas dijalan.


Eh ternyata saat merobos kampus ada teman saya si Sube jalan sama ceweknya, ( saya pikir ibunya, tapi tidakkah itu mungkin kan ?), kami berdua ( aku dan rizki ) sontak terkejut tapi tidak berlebihan dengan latah. Itu dua sejoli yang sedang berjalan leos saja lewat tak memperdulikan kami berdua, sepasang bujang yang tidak tidak bisa dibilang lapuk, karena saya masih 17thn dan rizki 36thn ( percaya tidak ? sebaiknya percaya saja lah ).

“wah sialan si sube, mun jeng awewe mah poho, teu nempo-nempo acan ka babaturan ge” kata si Rizki.
   “ jangan suudzon, mungkin emang henteu nempo lah” saya bilang dengan sisi keimanan dan religi. Padahal nyatanya saya ingin bilang, “ heeuh kitu mun jeng awewe mah, babaturan ge asa jurig, teu katembong” tapi ada yang menahan saya untuk tidak bicara seperti itu.

Kami berermpat berpapasan saja, tanpa bercium salam dan menyapa, saya ke arah gerlong ke warung kopi, sementara sube dan pacarnya ke mana saya tidak tahu.

Sampai di gerlong ,di warung kopi yang suka bohong itu, kami duduk menunggu temannya Rizki, dan semoga dia juga menganggap ku teman, bukan musuh, karena permusuhan memang sangat buruk sodara-sodara. Sambil menunggu saya pesan Indomi hangat, saya tuangkan beberapa bumbu rahasia ( saus, kecap dan merica juga sambel, dan ssstt ini rahasia ya...) untuk menambah cita rasa dan kenikmatan dunia yang fana ini. Kami berdua mengobrol, biasalah anak muda mengobrol politik dan isu-isu hangat, biar dibilang mahasiswa muda yang nasionalis dan pandai, padahal sebenarnya saya ingin ngobrol tentang hal lain yang lebih menarik tapi nyatanya tidak.

Dan saat mengobrol datanglah Putra, temannya Rizki bean, dia anak UPI Bandung jurusan Pendidikan IPS. Rambutnya agak gondrong dan lucu menurut ibunya. Dia pesan teh manis hangat dan duduk disamping saya. Dan mengobrol beberapa topik bahasan. Saat kami bertiga duduk dan datanglah Sube dan pacarnya, waw tak diduga tak disangka, mereka pacaran. Sube nama yang sebernarnya Arief Rachman, tapi dipanggil Sube katanya biar ingin kelihatan bego, Sube kan singkatan, super bego, hehehe... piss ah, tapi emang kenyataan kok. Dia membawa pacar barunya, ih ngiri deh, pengen punya pacar, biar lah iri itu memang tidak baik, tapi untuk motivasi saja biar saya lebih giat mencari pacar.

“be, tadi di lewat Upi gak liat kita” kata saya

“ dimana ?” kata dia, oh nyatanya dia memang tidak lihat, rizki sepertinya jengkel, saya tidak.

“Eh kenanlan, saya putra”si Putra kenalan, bukan pada saya tapi pada Pacarnya sube, buat apa Putra kenalan sama
saya, kan sudah kenal.

“Ikeu..” itulah namanya pacar si sube, mukanya mirip Astrid Tyas, oh Sube beruntung sekali pacarnya cantik, sekolahnya di Unpad Dipati Ukur, saya tulis Dipati Ukur, supaya tidak tertukar dengan Unpad Jatinangor dia sekolah di Manajemen kalo tidak salah, katanya. Saya juga berkenalan, rizki juga. Semuanya kenal, sudah kenal boleh sayang sayang dong, kan “tak kenal maka tak sayang”, berarti “kenal maka sayang” hahaha... seandainya saya mau, tapi tidak mau, karena waktu itu saya sedang menyayangi seseorang, siapa orang itu tidaklah penting yang pasti perempuan, yang penting saya duduk diwarung kopi malam hari, dan saat itu saya juga sibuk membalas SMS-nya.

Kembali lah kami pada dunia kami semua, dunia warung kopi tukang bohong, sekarang kami ada 5 orang. Kami mengobrol-dan mengobrol seperti sekolompok ibu-ibu, indahnya menjadi ibu ibu tinggal mengobrol, sementara suami bekerja di luar.

“ cit, kamu lapar ?” Putra mengajukan pertanyaan pada saya, yang so peduli, padahal bukan itu maksudnya.

“enggak, kan aku udah makan indomi” emang kenyataanya iya aku gak lapar, Indomi sudah habis masuk kedalam perut nyatanya.

“ Kamu percaya tuhan gak ?”  dia tanya, wow pertanyaanya sangat beratttt.

“percaya lah..., kan tadi aku sholat magrib” kata saya, bukan maksud ingin ria, tapi saya Islam dan percaya pada Alloh SWT. Rizki dan sube cengengesan seprti menertawakan, Ikeu juga memperhatikan saya.

“ sekarang tutup mata dan berdoa minta sama Alloh kamu ingin makanan” kata putra menyuruh saya.

“ embung ah, rek naon..” saya menolak, apaan sih kamu Put.

“heh cepetan” katanya dia.

Ah biar gak lama, ya sudah saya tutup mata pake tangan, biar Putra senang, lalu saya minta sama Alloh saya ingin makanan. Rizki tertawa Sube juga, Ikeu juga tertawa liatin apa yang saya lakuin.

“udah ?” kata Putra nanya.

“udah Put” kata saya, padahal saya juga ingin bilang “heh Putra, udah lah ganti aja nama kamu jadi Putri biar co cwiittt...” nyatanya tidak hehehe....

“ sekarang Tuhan memberikan makanan tidak ?” kata dia

“eehh... enggak..” jawab saya, ya ampun, Astagfirurlloh, ada apa ini, apakah dia sangsi pada Tuhan.
“kamu masih percaya Tuhan ?” kata dia, ya Ampun kuatkan iman saya.

“ehh...” saya bingung, tapi Putra rizki sama sube juga Ikeu tertawa. Oh Front apa yang sedang mereka buat, apakah saya akan direkrut jadi anggotanya.

“Sekarang berdoa, coba minta makanan dan berdoa atas nama Rizki ” kata putra

Ah saya coba saja berdoa, sekedar iseng, saya melakukannya seperti pada Tuhan saya, ya dengan menutup mata.
“ buka matanya !” kata dia memberikan instruksi.

Saya membuka mata dan melihat makanan berupa kerupuk kulit alias dorokdok, ter-onggok didepan saya. Saya terkejut, tapi tidak jadi, karena ternyata emang warung itu jualan Dorokdok , tuh kan Warung kopi tukang bohong, ngakunya jualan kopi, ternyata jualan dorokdok juga. Dan Sang Putra menaruhnya didepan saya seolah-olah dia mengabulkan doa saya.
“ wah” kata saya..

“Sekarang masih percaya Tuhan ?”  kata dia.

“ hahaha... boa edann” saya tertawa. Semua tertawa.

Semua itu dilakukan untuk menguji iman , dan sebagai pembelajaran bagi saya yang masih dibilang belum dewasa sama sekali, itulah doktrin yang digunakan oleh orang orang yang tidak baik jauh di negeri sebrang sana, yang mensangsikan keberadaan Tuhan dimuka bumi ini. Tuhan memang tidak selalu mengabulkan doa kita secara instant seperti Indomi yang saya makan, tapi dia memberikan proses, dan bahkan tidak mengabulkan doa kita, karena dia tahu ada yang lebih baik buat kita lebih dari sekedar permintaan kita. Yang mungkin jika dikabulkan maka akan membuat kita lupa pada siapa yang mengabulkan doa kita.

Terjadi di Bandung, saat malam hari saat saya sayang pada-Nya juga padanya.

Terima kasih pada Pidi Baiq, orang yang tidak saya kenal, yang mengajarkan saya bahwa kebebasan menulis adalah baik-baik saja. Tak peduli bagaimana yang saya tulis menggunakan pola apa, saya hanya ingin meluangkan isi pikiran saya.

1 comments

My Instagram