Gegar Budaya (Culture Shock) lebih menghambat daripada Gegar Bahasa (Language Shock)?

Persoalan bahasa, sebenarnya tidak menjadi kendala utama bagi kita untuk memutuskan tinggal disuatu tempat diluar negeri yang memiliki bahasa yang berbeda dari yang kita gunakan. Sebut saja Bahasa Inggris misalnya, kebanyakan dari kita sudah pernah mempelajari bahasa ini yang notabene merupakan bahasa resmi internasional…

maka tentulah kita bisa 550x-culture-shock
menggunakan bahasa ini minimal sekian persen dan walaupun dengan pengucapan yang terbata-bata. Karena itulah, bila kita tinggal di negeri yang berbahasa Inggris, tentu kendala bahasa tidak menjadi persoalan yg terlalu menghambat bagi kita.
Menurut saya pribadi, masalah utama yang menghambat kita adalah penyesuaian budaya. Kenapa budaya? karena tak semua budaya, kebiasaan, adat istiadat yang biasa dilakukan di negeri asal kita itu di terima di negara tujuan. Inilah yang merupakan tantangan bagi kita, tapi bukan berarti kita harus meninggalkan budaya asal kita, dan bukan berarti kita juga harus menolak mentah-mentah budaya-budaya baru yang kita temui.
Ceritanya, kita sekarang untuk beberapa saat harus tinggal di Amerika. Tentu perbedaan-perbedaan budaya atau kebiasaan akan sangat sering kita alami disana, kan?
“Sorry and thanks”
Orang Amerika, kebanyakan sangat peka dengan dua kata, “sorry” dan “thanks”, maaf dan terimakasih.  Misalnya, kita lagi jalan terburu-buru lalu berpapasan dengan orang dan kita tak sengaja menyenggol orang itu, maka orang itu akan segera berkata “sorry” meskipun belum tentu juga orang itu yg salah, justru mungkin yang salah sebenarnya adalah kita. Begitupun juga misalnya kita membeli sesuatu, dan si pedagang menyerahkan barang dagangannya kepada pembeli, maka kedua orang itu akan saling mendahului untuk berkata “thanks”.
Dari kebiasaan itu, bisa dilihat bahwa orang-orang sana ternyata cenderung untuk lebih merendahkan diri di depan orang lain ketimbang meninggikan diri karena mungkin takutnya bila seperti itu akan meningkatkan masalah yang kita hadapi. Utamanya untuk hal-hal sepele seperti diatas, menjadi pihak yang “tampak” bersalah toh tak kan rugi apa-apa.
Tuhan dan Agama
Sudah kita ketahui semua bahwasanya Amerika adalah sebuah negara Sekuler, yang berarti pemerintah tidak mengintervensi penduduknya dalam masalah agama. Bagi orang-orang Amerika, agama adalah urusan masing-masing, di KTP pun tidak dicantumkan tentang orang yang punya KTP itu agama nya apa. Bertanya agama kepada orang-orang sana, sama halnya dengan bertanya “berapa gaji kamu sebulan?” Mereka menganggap tidak perlu lah orang lain tahu apa agama mereka, dan tidak masalah juga bahkan bila tidak beragama dan tidak ber-tuhan sekalipun dan kita dilarang untuk saling menghakimi dan melecehkan.
Mungkin bagi sebagian kita, tidak setuju dengan konsep itu, tapi justru bila dipikir-pikir,  saya pribadi merasa, ketika saya tak mempedulikan orang lain apakah dia ber-Tuhan ataukah tidak, disitulah saya merasa betapa Tuhan itu sangat besar maaf dan kasih sayangnya karena Ia tak marah atau murka pada mereka yang memiliki cara pandang yang berbeda dalam bagaimana mengimani tuhannya, dan bahkan termasuk bagi mereka yang tak mengakui-Nya.
Menyebut nama langsung
Mungkin ada di antara kita yang diharuskan atau di suruh untuk memanggil bayi yang baru lahir dengan sebutan “Om” atau “mang” untuk orang Sunda. hanya gara-gara orang tua bayi itu lebih tua dari orang tua kita, atau orang tuanya itu merupakan kakak orang tua kita.
Menggelikan sekali bukan? Open-mouthed smile
Hal seperti itu, tidak akan kita temui di Amerika sana, orang amerika menyebut nama langsung bahkan terkadang banyak juga yang memanggil ayah mereka dengan langsung saja menyebut nama nya, itu bukanlah suatu hal yang “pamali”. Banyak cucu disana yang memanggil kakek mereka dengan langsung menyebut nama, dan itu tidaklah menjadi masalah. Itu juga berlaku dalam hubungan Anak buah dengan Bos-nya.
Mereka beranggapan bahwa, inti dari merendahkan diri dan menghhormati yang lebih tua bukan dengan cara seperti itu, atau bisa jadi bukan hanya dengan cara itu saja. Orang memanggil dengan panggilan “Sir” atau “Mister” hanyalah ketika berada dalam urusan yang sangat formal saja.
Sebenarnya masih banyak budaya, adat istiadat, dan kebiasaan lain yang berbeda dengan kita yang dapat ditemui disana dan bisa membuat kita mengalami apa itu yang disebut dengan Gegar Budaya. Meski memang itu sangat menghambat bahkan lebih menghambat dari Gegar Bahasa, tapi seyogyanya lah kita sebagai warga dunia harus bisa menghadapi tantangan itu dengan tidak serta merta meninggalkan budaya asli kita. Ingat, bahwa di era yang semakin global ini, dimana batas-batas wilayah negara menjadi semakin “kabur”, seiring dengan penduduk antar negara yang juga semakin berbaur, jangan sampai hambatan itu malah menjadikan kita kalah dan tertinggal oleh mereka. (Kamal Fahrurizal)

0 comments:

Post a Comment

My Instagram