Dekat tapi Jauh

President Franklin D. Roosevelt is shown signing the Wagner Unemployment Bill, June 6, 1933, at the White House. Standing, left to right: Rep. Theodore A. Peyser of New York; Secretary of Labor Frances Perkins; and Sen. Robert Wagner of New York. (Source)
Mungkin berjuta-juta kali aku lihat di berita, sosial media, atau apapun portal akses menuju pemberitaan mengenai tindak-tanduk dan berragam berita komentar mereka tentang pemimpin bangsa ini. Entah mengenai glamoritas mereka, mengenai perlakuan eksklusif terhadap mereka, atau bagaimana ketidakpekaan mereka terhadap apa yang terjadi di negeri ini. Mostly, mereka pikir pemimpin negara tidak adil, well.. aku pikir, kalian saja yang tidak peka.
Aku bilang seperti itu karena "heyyy, presiden juga pernah jadi rakyat, apakah kalian pernah jadi presiden ?." bagaimana bisa menempatkan pandangan kalian didalam pandangan yang belum sama sekali kalian tempati, maksudku apakah kalian pernah merasa diri kalian menjadi pemimpin. Kalian yang biasanya menengadah, apakah kalian pernah merasa untuk menunduk dan meluaskan pandangan sementra kemampuan melihat terbatas?. aku harap kalian mengerti maksudku.

Aku sendiri sebenarnya aneh pada beberapa setasiun teve. Tempo hari aku melihat warta di teve mengenai kunjungan pada persiapan tenda sang pemangku negara yang melakukan visitasi yang entah kenapa diplesetkan menjadi "vakansi" ke daerah bencana, yang kemudian wartawan bertanya pada pengungsi "bagaimana keadaan tenda disini dengan tenda pengungsian anda?" ini nilai beritanya dimana ? ya jelas beda DUNGU !!, yang datang itu PRESIDEN, tapi sudahlah... aku tahu warta picisan seperti itu sangat digemari oleh masyarakat, menyulut api-api kontradiksi.

Oh ya satu lagi, mengenai pandanganku tentang kepemimpinan maksudku, aku sih sebenarnya hanya menyampaikan pandanganku saja, terserah kalian atau setuju atau tidak. Pertama, aku ajukan sendiri pertanyaan pada diriku :
"apa seorang pemimpin benar-benar mendengar, benar-benar merasa, benar-benar mengiba ?" 
"yak aku tau hal itu ada, ia pun manusia" 
"lalu kenapa seperti tidak pada manusia pada umumnya sangat mengiba, mendengar dan perasa?"
"aku katakan "ada batas, batas-batas penglihatan.." titik buta maksudku.

Titik buta ini beberapa orang pintar menyebutnya "isolasi". Pemimpin memang terlihat, sebenarnya dekat, tapi sebenarnya jauh atau dijauhkan. Aku selalu menganggap pemimpin negara seperti biasa, bangun pagi, minum kopi, merokok, sarapan, baca koran (pemimpin akiu kira tidak percaya koran) mereka lebih percaya pada "staff ahli". ya, orang-orang ahli.. orang yang memilah milah, milih-milih, memfilter apa yang harus didengar oleh pemimpin dan apa yang tidak harus didengar oleh pemimpin.ini soal prioritas. maaf jika ANDA bukan prioritasnya hahaha.. aku tak tahu "isolasi" ini berbahaya atau tidak yang jelas aku tidak tahu benar.

Yang kutulis cuman.. (aku tak tahu bagaimana menyebutnya.. kekecewaankah.. kritikankah... atau celaankah.. aku tidak peduli.). Aku harap kalian bisa membeli banyak cermin dan pantulkan kesegala arah, sehingga kalian dapat melihat sesuatu dari sisi yang beda, bukan sebatas isu-isu kacangan hembusan dari mulut-mulut naga penyembur kebohongan.  

0 comments:

Post a Comment

My Instagram