Bandung dalam Ingatan

Ijinkan aku bercerita mengenai bandung yang dulu sedikit aku kenal, setidaknya di waktu yang lampau aku pernah disini, di Kota yang dulu pernah nyaman ini, dengan fragmen-fragmen ingatan aku coba memaksa menembus relung otak untuk kembali membuka laci-laci memori di tempat yang mungkin sudah berdebu.
Sekarang umurku sudah 20 tahun, hampir 14 tahun yang lalu aku pernah di sini di Bandung yang dulu, beberapa ingatan masih basah dalam pikiranku, mengenai nama teman temanku, Yovi, Adik, anak di Sebrang jalan, anak di rumah bertegel hitam, Renaldi kecil tetanggaku yang suka memberi kerupuk kemplang. Seandainya aku bisa melihat kembali ke masa lalu dengan jelas seperti langit tanpa awan, hanya saja sekarang seperti yang kulihat terhalang kabut di pagi hari di dataran Lembang atau memang sudah berdebu ingatanku ini. Entah kenapa aku ingin menulis kenangan, sebisa mungkin aku menulisnya dengan jelas sebelum itu benar-benar hilang, apa yang indah dari kenangan ? hanya hamparan kenyataan yang telah menjadi fiksi aku kira, seperti potongan film-film yang rasanya nyata. Hanya rasa.
Ini di Inhoftank, Bandung beberapa tahun yang lalu.
Rasa I
Rasa-rasanya aku punya teman namanya Adik. Namanya mungkin Adit, tapi setiap aku mengingatnya ada bunyi huruf K dibelakang namanya. Sayangnya aku tak ingat suaranya, hanya seringai senyum dan deret gigi kecilnya yang kuingat, sementara gigiku dahulu keropos dimakan kuman (kata orang tuaku). Kuingat dari dia, Adik punya sepeda roda dua yang tinggi dengan roda bantu di belakangnya. Ya itu saja yang aku ingat.
Rasa II
Rasa-rasanya aku punya teman namanya Yovi, dia laki-laki, dia kalau tidak salah Kristen, lalu kenapa ?. Aku tak ingat suaranya bagaimana, yang kuingat adalah dia berambut gondrong dengan sedikit pirang seperti orang asing. Namun yang ku ingat di pindah rumah terlebih dahulu daripada aku dan rasa-rasanya aku mengantar kepergiannya, mengejar mobil pengangkut barangnya sampai mobil itu hilang ditelan belokan jalan. Itu saja.
Rasa III
Rasa-rasanya aku sering menangis, pertama yang kuingat. Hari itu sehabis hujan aku pergi keluar rumah, melihat anak-anak bermain air di teras hitam yang basah dengan kaki di balut keresek hitam, seolah menjadi sepatu ski di lantai basah, aku ikut main, aku jatuh, dan terbentur, aku menangis dan aku pulang.
Kuingat, pernah kupanggil tukang es krim, aku berniat membelinya, si tukang sudah berhenti, aku lari ke rumah, aku minta uang, tapi tidak dikasih, aku menangis, dan hanya bisa menengok tukang es krim dari gerbang rumah.
Kuingat, pernah ku  main di warung untuk jajan, kulihat ada mainan dinosaurus kecil-kecil, entah kenapa aku ingin sekali, aku pulang, aku minta uang, tidak dikasih, aku menangis, aku keluar dan menengok ke warung itu hanya melepas rasa inginku walau hanya dengan melihat mainan itu saja.
Kuingat, aku menangis berteriak-teriak ingin pisang, tak tahu kenapa, aku sangat ingin pisang. Aneh.
Rasa III
Ingatanku tentang tempat-tempat, aku tahu disekitar itu ada saluran air. Aku melempar benang layangan berisi bandul bukan untuk memancing, entah ngapain.
Kuingat, ada tukang kandang ayam, atau tukang ayam, disebelahnya ada kolam biawak.
Kuingat SD ku dahulu rindang, riuh oleh tukang dagang di pinggir jalan.
Ah.. sudahlah kini aku disini di Kota yang sama. Dengan keadaan yang berbeda.

Bandung,  Mei 2014




0 comments:

Post a Comment

My Instagram