Presiden dan Isolasi

Presiden Amerika, Harry S. Truman pernah mengemukakan bahwa ketika kamu berada pada tampuk kepemimpinan yang tinggi maka kamu sedang dalam penjara, dan ia menyebutnya “Great White Prison”. Wartawan John Hersey pernah menulis sebuah akun mengenai kehidupan sehari-hari Truman mulai dari beliau bangun sampai kembali tidur, kemudian disadur oleh Moley dan menyebutnya sebagai “Presidential Isolation”.

Presidential Isolation adalah frasa yang mungkin jarang disebutkan dalam kehidupan sehari-hari, apalagi dalam lingkup organisasi di Indonesia. Saya menemukan frasa tersebut dalam chapter Leadership dalam sebuah buku mengenai organisasi, walaupun pada dasarnya saya kurang menyukai domain organisasi dan birokrasi namun saya merasa tersentil untuk menulis hal-hal macam itu karena berbarengan dengan event yang saat ini terjadi di Indonesia.

Pada dasarnya ketika menjadi seorang pemimpin, dalam hal ini Supreme Leader. Domain yang dirangkul sangatlah luas, bahkan diluar kapabilitas individu. Namun karena adanya sistem dan managemen, maka -setidaknya- domain kekuasaan yang sedang dipimpin menjadi lebih ada pada kontrol dan pengawasan. Berbicara mengenai pemegang tampuk kepemimpinan, seorang yang mendapatkan kursi, dalam hal ini eksekutif (orang-orang sering mensalahartikan konsep trias politika dalam demokrasi sebagai suatu bentuk stratifikasi namun pada kenyataanya merupakan suatu diferrensiasi, artinya kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif ada pada satu garis horizontal) berada dalam kapasitas yang terbatas dengan domain luar, maka dari itu seringkali keterbatasan ini menjadikan seorang pemimpin dalam sebuah ruang isolasi.

Isolasi ini sebenarnya lumrah dalam kepemimpinan namun cenderung menumpulkan empati pemimpin kepada yang dipimpin. Sebelumnya saya seringkali merasa terganggu dengan istilah “boneka, dalang, atau wayang”, hal tersebut benar-benar terjadi, namun cenderung bukan pada kontrol penuh melainkan pengaruh individu kepada individu. Ketika seorang President duduk, maka segala apa yang ia akan dengar, ia akan bicarakan, ia akan perbuat itu atas rekomendasi dan pertimbangan staff ahli. Oke, saya akui saya belum pernah berada di Istana, namun bukankah staff ahli merupakan orang yang patut didengar dan segala pendapatnya menjadi pertimbangan presiden, saya rasa iya. Selain staff ahli, tentu saja partai. Ingat, “Politik Balas Budi”.

Kembali ke Isolasi, setiap hari apa yang akan di lakukan dan didengar presiden adalah apa yang menjadi keputusan staff ahli. Apakah mengherankan, setelah hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun, bahwa presiden berpikir dia melakukannya dengan baik, karena "semua orang" bilang begitu? Dan yang akhirnya ia percaya bahwa apa yang benar adalah apa yang dia katakan, dan apa yang ia katakan adalah apa yang benar?. Inilah yang menumpulkan empati pada mental seorang pemimpin sehingga seringkali dianggap kurang bijak. Saya menyebutnya eksresi sistem demokrasi yang menumbuhkan sikap parokialisme pikiran.

Namun Menyikapi Jokowi dengan elektabilitas melebihi 50% dinobatkan menjadi President Indonesia untuk 5 tahun kedepan dengan gaya kepemimpinannya yang (sebenarnya saya kurang suka dengan kata ini, namun sudah menjadi umum) “blusukan”, setidaknya akan mengikis isolasi tersebut semoga saja gayanya yang acap kali memiliki kecenderungan pada micro-management menjadi suasana baru dalam wajah kepemimpinan di Indonesia. Namun tetap saja ketika “blusukan” menjadi “nature” nya, bahwa ada bagian lain dalam pengaruh individu, yaitu “nurture”. Kita bisa bersuka karena Jokowi sekarang seperti ini, walaupun waktu 5 tahun adalah waktu yang sebentar, kita tidak tahu apa yang akan mempengaruhi gaya kepemimpinan Jokowi.

Pemilihan umum dengan hanya dua pasang calon ini menghasilah dikotomi suara. Dengan perbedaan 7% kemenagan dengan calon rival, hal sangat bijak dan perlu menjadi konsen Jokowi adalah mulainya manuver kooptasi dengan kubu lawan. Hal ini dimkasudkan agar tidak terjadi hal yang akan menganggu kestabilan pemerintahan kedepannya.
   



0 comments:

Post a Comment

My Instagram