Reading
Add Comment
Aku duduk disana dan merasa limbung. "Dunia ini terlalu sibuk, atau aku yg terlalu santai ?" Tiba tiba ia berada di salah satu jurusan sambil duduk sendirian. Sementara orang lain berlalu lalang, becakap ria membicarakan kuliah, masa depan, tugas akhir, skripsi. Rasa rasanya ia mau muntah di depan orang orang itu. Entah mengapa padahal ia tidak ada masalah dengan hal hal itu. "Aku kenapa ?" Tanya dia dalam hati, mungkin hati menyembunyikan perasaan yang paling dalam, bahkan sampai batas logika tak tercapai terpikirkan dan perasaan itu tak sampai pada bagian otak pengolah intelejensi tapi langsung ke susunan sarap pengendali rasa mual. Karena ia tidak menemukan kesimpulan dalam bentuk kata maupun pemikiran. Pikirnya begitu seperti ia benar benar seorang neurologis handal yang tetapi ngawur dan ia tidak peduli.hari itu dia cuman diam, diam sediam diamnya lebih dari diam biasanya. Tak melempar senyum tak melempar canda tak melempar suka. Hari itu tiba tiba dia merasa ada di timbunan mayat korban genosida dan ia masih hidup dengan napas tersengal dadanya ditumpuk mayat ditambah bau busuk dan darah merangsek indra penciumannya. Dia merasa hidup dan mati "aku cuman ingin dunia yg tenang di tempat yg berisiki ini" pinta dia tidak tau pada siapa meminta. Dia kira Tuhan tak akan dengar, dia selalu berpikir bahwa ketika dia berdoa, doanya tak pernah sampai ke langit dan membentur atap bangunan dan berserakan di tanah lalu ditiup angin.
Kala itu semacam Desember 2015
Kala itu semacam Desember 2015
0 comments:
Post a Comment