Reading
Add Comment
PENDAHULUAN
Tidak bisa terelakan bahwa manusia sebagai komponen pembentuk sebuah bangsa memiliki banyak perbedaan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Begitupun bila kita berbicara dalam konteks kehidupan bernegara.
Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman budaya atau juga multikultur. Pada masyarakat multikultur, mereka memiliki tipe atau pola tingkah-laku yang khas. Sesuatu yang dianggap sangat tidak normal oleh budaya tertentu tetapi dianggap normal atau biasa-biasa saja oleh budaya lain. Perbedaan semacam inilah yang sering menyebabkan kontradiksi atau konflik, ketidak-sepahaman dan disinteraksi dalam masyarakat multikultur.
Salah satu upaya untuk bisa menghargai adanya perbedaaan adalah dengan memberikan pendidikan karakter. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.
Jika dilihat dari sudut pandang yang lebih mengerucut, pendidikan karakter dalam menyikapi keragaman yang ada pada saat ini di Indonesia, bisa dibantu dengan pendidikan multibudaya. Menurut Prof. Dr. Dadang Supardan, M.Pd. pendidikan multibudaya pada hakikatnya memiliki dua makna; (1) ia merupakan realitas sosial dalam masyarakat yang heterogen, di mana dari segi ini hamper seluruh negara di dunia pada dasarnya adalah bersifat multibudaya yang secara etnis dan budaya bersifat plural; (2) pendidikan multibudaya telah diangkat sebagai suatu keyakinan, ideologi, sikap, maupun kebijakan yang menghargai pluralisme etnik dan budayanya sebagai sesuatu yang berharga, potensial, harus dipelihara dan ditumbuhkembangkan.
TUJUAN
- Penanaman nilai dari pendidikan karakter.
- Pendidikan multibudaya sebagai bagian dari restorasi kehidupan berbangsa di Indonesia.
HASIL DAN PEMBAHASAN
- Pengertian Pendidikan Karakter
Sebagaimana termaktub dalam UU No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS (Sudrajat:2010), yakni:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Sebagaimana pengertian pendidikan diatas ada poin penting yang dapat kita tarik. (1) bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana; (2) mewujudkan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya; serta (3) memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Sedangkan menurut bapak pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (http://www.lihatberita.com/2011/05/) ‘Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan batin dan karakter), pikiran, dan jasmani anak didik’. Disinggung pula dalam pengertian pendidikan menurut Ki Hajar Dewantoro, adanya aspek budi pekerti yang meliputi kekuatan batin, dan karakter dalam pendidikan.
Karakter menurut kamus Poerwadarminta (http://embundinda.multiply.com) diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak, ataupun budi pekerti. Jika kita amati lebih lanjut, karakter ini mengikut sertakan unsur kejiwaan, dan hal-hal yang baik yang ada dalam diri kita atau potensi.
Berkenaan dengan pengertian karakter menurut kamus Poerwadarminta, lebih lanjut dikatakan “karakter atau kepribadian merupakan akumulasi antara potensi dan proses penggunaan potensi” (Ma’ruf : 2010).
Dari dua definisi konsep pendidikan dan karakter, kita dapat hubungkan pengertian pendidikan karakter menurut T. Ramli (Sudrajat:2010), ‘pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak’. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik.
Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda.
Tidak kurang dari 18 nilai-nilai dalam Pendidikan Karakter Bangsa diantaranya adalah: (1) Religius; (2) jujur; (3) Toleransi; (4) disiplin; (5) kerja keras; (6) kreatif; (7) mandiri; (8) demokratis; (9) rasa ingin tahu; (10) semangat kebangsaan; (11) cinta tanah air; (12) menghargai prestasi; (13) bersahabat/komuniktif; (14) cinta damai; (15) gemar membaca; (16) peduli lingkungan; (17) peduli sosial, dan (18) tanggung jawab.
- Hubungan Pendidikan Karakter dengan keadaan Indonesia
Indonesia sebagai sebuah Negara dengan keberagaman yang tak bisa kita elakkan lagi menurut Presiden Republik Indonesia Dr. Susilo BambangYudhoyono (http://beritakawanua.com/berita/nasional/html) “Indonesia, dengan lebih dari 300 kelompok etnisnya, adalah negara dengan keberagaman suku bangsa terbesar di dunia. Sejak kemerdekaan, generasi penerus bangsa hidup dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, bersatu dalam keberagaman,”
Kenyataan Indonesia sebagai Negara yang memiliki keragaman, terbukti sudah tatkala data menyebutkan tidak kurang dari 746 bahasa yang ada di Indonesia. Begitupun dengan etnis yang ada di Negara kepulauan ini, 300 kelompok etnis ada di dalamnya.
Indonesia sebagai Negara rawan konflik dilihat dari keberagaman diatas. “SARA” suku, agama, ras dan antar golongan merupakan perbincangan hangat sampai saat ini sebagai faktor pemicu pertikayan.
Dibawah ini data suku yang ada di Indonesia diambil dari Wikipedia.
Daftar suku di Indonesia
- Suku Aceh di Aceh: kabupaten Aceh Besar
- Suku Alas di kabupaten Aceh Tenggara
- Suku Alor di NTT: kabupaten Alor
- Suku Ambon di kota Ambon
- Suku Ampana di Sulawesi Tengah
- Suku Anak Dalam di Jambi
- Suku Aneuk Jamee di kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Aceh Barat Daya
- Suku Arab-Indonesia
- Suku Aru di Maluku: Kepulauan Aru
- Suku Asmat di Papua
- Suku Abung di Lampung
- Suku Bali di Baliterdiri :
- Suku Bali Majapahit di sebagian besar Pulau Bali
- Suku Bali Aga di Karangasem dan Kintamani
- Suku Balantak di Sulawesi Tengah
- Suku Banggai di Sulawesi Tengah: Kabupaten Banggai Kepulauan
- Suku Baduy di Banten
- Suku Bajau di Kalimantan Timur
- Suku Bangka di Bangka Belitung
- Suku Banjar di Kalimantan Selatan
- Suku Batak di Sumatera Utaraterdiri :
- Suku Batin di Jambi
- Suku Bawean di Jawa Timur: Gresik
- Suku Belitung di Bangka Belitung
- Suku Bentong di Sulawesi Selatan
- Suku Berau di Kalimantan Timur: kabupaten Berau
- Suku Betawi di Jakarta
- Suku Bima NTB: kota Bima
- Suku Boti di kabupaten Timor Tengah Selatan
- Suku Bolang Mongondow di Sulawesi Utara: Kabupaten Bolaang Mongondow
- Suku Bugisdi Sulawesi Selatan
- Suku Bungku di Sulawesi Tengah: Kabupaten Morowali
- Suku Buru di Maluku: Kabupaten Buru
- Suku Buol di Sulawesi Tengah: Kabupaten Buol
- Suku Bulungan di Kalimantan Timur: Kabupaten Bulungan
- Suku Buton di Sulawesi Tenggara: Kabupaten Buton dan Kota Bau-Bau
- Suku Bonai di Riau: Kabupaten Rokan Hilir
- Suku Damal di Mimika
- Suku Dampeles di Sulawesi Tengah
- Suku Dani di Papua: Lembah Baliem
- Suku Dairi di Sumatera Utara
- Suku Dayakterdiri :
- Suku Dayak Ahe di Kalimantan Barat
- Suku Dayak Bajare di Kalimantan Barat
- Suku Dayak Damea di Kalimantan Barat
- Suku Dayak Banyadu di Kalimantan Barat
- Suku Bakati di Kalimantan Barat
- Suku Punan di Kalimantan Tengah
- Suku Kanayatn di Kalimantan Barat
- Suku Dayak Krio di Kalimantan Barat: Ketapang
- Suku Dayak Sungai Laur di Kalimantan Barat: Ketapang
- Suku Dayak Simpangh di Kalimantan Barat; Ketapang
- Suku Iban di Kalimantan Barat
- Suku Mualang di Kalimantan Barat: Sekadau, Sintang
- Suku Bidayuh di Kalimantan Barat: Sanggau
- Suku Mali di Kalimantan Barat
- Suku Seberuang di Kalimantan Barat: Sintang
- Suku Sekujam di Kalimantan Barat: Sintang
- Suku Sekubang di Kalimantan Barat: Sintang
- Suku Ketungau di Kalimantan Barat
- Suku Desa di Kalimantan Barat
- Suku Kantuk di Kalimantan Barat
- Suku Ot Danum atau Dohoi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat
- Suku Limbai di Kalimantan Barat
- Suku Kebahan di Kalimantan Barat
- Suku Pawan di Kalimantan Barat
- Suku Tebidah di Kalimantan Barat
- Suku Bakumpai di Kalimantan Selatan Barito Kuala
- Orang Barangas di Kalimantan Selatan Barito Kuala
- Suku Bukitdi Kalimantan Selatan
- Suku Dayak Hulu Banyu di Kalimantan Selatan
- Suku Dayak Balangan di Kalimantan Selatan
- Suku Dusun Deyah di Kalimantan Selatan: Tabalong
- Suku Ngaju di Kalimantan Tengah: Kabupaten Kapuas
- Suku Siang Murung di Kalimantan Tengah: Murung Raya
- Suku Bara Dia di Kalimantan Tengah: Barito Selatan
- Suku Ot Danum di Kalimantan Tengah
- Suku Lawangan di Kalimantan Tengah
- Suku Dayak Bawo di Kalimantan Tengah: Barito Selatan
- Suku Tunjung, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
- Suku Benuaq, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
- Suku Bentian, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
- Suku Bukat, Kutai Barat
- Suku Busang, Kutai Barat
- Suku Ohong, Kutai Barat
- Suku Kayan, Kutai Barat, rumpun Apo Kayan
- Suku Bahau, Kutai Barat, rumpun Apo Kayan
- Suku Penihing, Kutai Barat, rumpun Punan
- Suku Punan, Kutai Barat, rumpun Punan
- Suku Modang, Kutai Timur, rumpun Punan
- Suku Basap, Bontang-Kutai Timur
- Suku Ahe di Kabupaten Berau
- Suku Tagol, Malinau, rumpun Murut
- Suku Brusu, Malinau, rumpun Murut
- Suku Kenyah, Malinau, rumpun Apo Kayan
- Suku Lundayeh, Malinau
- Suku Pasir di Kalimantan Timur: Kabupaten Pasir
- Suku Dusun di Kalimantan Tengah
- Suku Maanyan di Kalimantan Tengah: Barito Timur
- Suku Dompu NTB: Kabupaten Dompu
- Suku Donggo, Bima
- Suku Donggala di Sulawesi Tengah
- Suku Dondo di Sulawesi Tengah: Kabupaten Toli-Toli
- Suku Duri Terletak di bagian utara Kabupaten Enrekang berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja, meliputi tiga kecamatan induk Anggeraja, Baraka, dan Alla di Sulawesi Selatan
- Suku Eropa-Indonesia (orang Indo atau peranakan Eropa-Indonesia)
- Suku Flores di NTT: Flores Timur
- Suku Gayo di Aceh: Gayo Lues Aceh Tengah Bener Meriah
- Suku Gorontalo di Gorontalo: Kota Gorontalo
- Suku Gumai di Sumatera Selatan: Lahat
- Suku Banten di Banten
- Suku Cirebon di Jawa Barat: Kota Cirebon
- Suku Jawadi Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta
- Suku Tengger di Jawa Timur
- Suku Osing di Jawa Timur: Banyuwangi
- Suku Samin di Jawa Tengah: Purwodadi
- Suku Jambi di Jambi: Kota Jambi
- Suku Kei di Maluku Tenggara: Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual
- Suku Kaili di Sulawesi Tengah: Kota Palu
- Suku Kaur di Bengkulu: Kabupaten Kaur
- Suku Kayu Agung di Sumatera Selatan
- Suku Kerinci di Jambi: Kabupaten Kerinci
- Suku Komering di Sumatera Selatan: Kabupaten Ogan Komering Ilir, Baturaja
- Suku Konjo Pegunungan, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan
- Suku Konjo Pesisir, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan
- Suku Kubu di Jambi dan Sumatera Selatan
- Suku Kulawi di Sulawesi Tengah
- Suku Kutai di Kalimantan Timur: Kutai Kartanegara
- Suku Kluet di Aceh: Aceh Selatan
- Suku Krui di Lampung
- Suku Laut, Kepulauan Riau
- Suku Lampung di Lampung
- Suku Lematang di Sumatera Selatan
- Suku Lembak, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu
- Suku Lintang, Sumatera Selatan
- Suku Lom, Bangka Belitung
- Suku Lore, Sulawesi Tengah
- Suku Lubu, daerah perbatasan antara Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Sumatera Barat
- Suku Madura di Jawa Timur
- Suku Makassar di Sulawesi Selatan: Kabupaten Gowa, Kabupaten Takalar, Kabupaten Jeneponto, Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Bulukumba (sebagian), Kabupaten Sinjai (bagian perbatasan Kab Gowa)Kabupaten Maros (sebagian) Kabupaten Pangkep (sebagian)Kota Makassar
- Suku Mamasa (Toraja Barat) di Sulawesi Barat: Kabupaten Mamasa
- Suku Mandar Sulawesi Barat: Polewali Mandar
- Suku Melayu
- Suku Melayu Riau di Riau
- Suku Melayu Tamiang di Aceh: Aceh Tamiang
- Suku Mentawai di Sumatera Barat: Kabupaten Kepulauan Mentawai
- Suku Minahasa di Sulawesi Utara: Kabupaten Minahasaterdiri 9 subetnik :
- Suku Minangkabau, Sumatera Barat
- Suku Mori, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah
- Suku Muko-Muko di Bengkulu: Kabupaten Mukomuko
- Suku Muna di Sulawesi Tenggara: Kabupaten Muna
- Suku Muyu di Kabupaten Boven Digoel, Papua
- Suku Mekongga di Sulawes Tenggara: Kabupaten Kolaka dan Kabupaten Kolaka Utara
- Suku Nias di Sumatera Utara: Kabupaten Nias, Nias Selatan
- Suku Osing di Banyuwangi Jawa Timur
- Suku Ogan di Sumatera Selatan
- Suku Ocu di Kabupaten Kampar, Riau
- Suku Padoe di Sulawesi Tengah
- Suku Papua/Irian
- Suku Asmat di Kabupaten Asmat
- Suku Biak di Kabupaten Biak Numfor
- Suku Dani, Lembah Baliem, Papua
- Suku Ekagi, daerah Paniai, Abepura, Papua
- Suku Amungme di Mimika
- Suku Bauzi, Mamberamo hilir, Papua utara
- Suku Arfak di Manokwari
- Suku Kamoro di Mimika
- Suku Palembang di Sumatera Selatan: Kota Palembang
- Suku Pamona di Sulawesi Tengah: Kabupaten Poso
- Suku Pasemah di Sumatera Selatan
- Suku Pesisi di Sumatera Utara: Tapanuli Tengah
- Suku Pasir di Kalimantan Timur: Kabupaten Pasir
- Suku Rawa, Rokan Hilir, Riau
- Suku Rejang di Bengkulu: Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Lebong, dan Kabupaten Rejang Lebong
- Suku Rote di NTT: Kabupaten Rote Ndao
- Suku Rongga di NTT Kabupaten Manggarai Timur
- Suku Saluan di Sulawesi Tengah
- Suku Sambas (Melayu Sambas) di Kalimantan Barat: Kabupaten Sambas
- Suku Sangir di Sulawesi Utara: Kepulauan Sangihe
- Suku Sasak di NTB, Lombok
- Suku Sekak Bangka
- Suku Sekayu di Sumatera Selatan
- Suku Semendo di Bengkulu, Sumatera Selatan: Muara Enim
- Suku Serawai di Bengkulu: Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kabupaten Seluma
- Suku Simeulue di Aceh: Kabupaten Simeulue
- Suku Sigulai di Aceh: Kabupaten Simeulue bagian utara
- Suku Sumbawa Di NTB: Kabupaten Sumbawa
- Suku Sumba di NTT: Sumba Barat, Sumba Timur
- Suku Sunda di Jawa Barat
- Suku Talaud di Sulawesi Utara: Kepulauan Talaud
- Suku Talang Mamak di Riau: Indragiri Hulu
- Suku Tamiang di Aceh: Kabupaten Aceh Tamiang
- Suku Tengger di Jawa Timur Kabupaten Pasuruan dan Probolinggo lereng G. Bromo
- Suku Ternate di Maluku Utara: Kota Ternate
- Suku Tidore di Maluku Utara: Kota Tidore
- Suku Tidung di Kalimantan Timur: Kabupaten Tanah Tidung
- Suku Timor di NTT, Kota Kupang
- Suku Tionghoa-Indonesia
- Suku Tojo di Sulawesi Tengah: Kabupaten Tojo Una-Una
- Suku Toraja di Sulawesi Selatan: Tana Toraja
- Suku Tolaki di Sulawesi Tenggara: Kendari
- Suku Toli Toli di Sulawesi Tengah: Kabupaten Toli-Toli
- Suku Tomini di Sulawesi Tengah: Kabupaten Parigi Moutong
- Suku Una-una di Sulawesi Tengah: Kabupaten Tojo Una-Una
- Suku Ulu di Sumatera utara: mandailing natal
- Suku Wolio di Sulawesi Tenggara: Buton
Jika dilihat dari unsur agama menurut wikipedia, bangsa Indonesia menganut: (1) Islam, (2) Krinten Protestan, (3) Kristen Katolik, (4) Budha, (5) Hindu, (6) Khonghucu, serta beberapa kepercayaan seperti: (1) Yahudi, (2) Baha’I, (3) Kristen Ortodoks.
Menurut Robbins (Wikipedia) konflik dalam organisasi sering terjadi tidak simetris terjadi hanya satu pihak yang sadar dan memberikan respon terhadap konflik tersebut. Atau, satu pihak mempersepsikan adanya pihak lain yang telah atau akan menyerang secara negatif. Jadi adanya prasangka atau pandangan yang melihat keragaman dengan sempit, dan memandang perbedaan sebagai hal yang tabu dapat menimbulkan konflik. Pertannyaan yang akan muncul sekarang adalah: Apa yang harus diperbaiki dari keadaan yang ada pada saat ini di Indonesia?
Penindakan secara tegas oleh pihak pemerintah dengan menggunakan alat Negara berupa keamanan seperti polisi, pamong praja dan lainnya hanya akan meredam konflik dan kecurigaan secara sesaat saja. Pendidikan karakter dapat membuat bangsa ini memiliki karakter yang baik seperti, sikap toleran, cinta damai, cinta tanah air, dan lainnya yang berhubungan, serta dibantu dengan pendidikan multibudaya yang memiliki poin penting tentang, penghargaan, dan menghormati kebudayaan orang lain. Dalam pendidikan multikultural perbedaan dipandang sebagai anugrah Illahi, bukan sebagai modal utama dalam pertikayan.
- Pendidikan Karakter dan Pendidikan Multibudaya sebagai Alat Penanaman Nilai
Sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya di bagian sebelumnya, bahwa tidak kurang dari 18 nilai-nilai dalam Pendidikan Karakter Bangsa diantaranya adalah: (1) Religius; (2) jujur; (3) Toleransi; (4) disiplin; (5) kerja keras; (6) kreatif; (7) mandiri; (8) demokratis; (9) rasa ingin tahu; (10) semangat kebangsaan; (11) cinta tanah air; (12) menghargai prestasi; (13) bersahabat/komuniktif; (14) cinta damai; (15) gemar membaca; (16) peduli lingkungan; (17) peduli sosial, dan (18) tanggung jawab.
Poin penting di atas yang berhubungan dengan artikel ini, tentang pendidikan karakter dalam perspektif Indonesia sebagai Negara multibudaya adalah tentang religius, toleransi, demokratis, semangat kebangsaan, cinta tanah air, bersahabat, cinta damai, peduli sosial.
Kymlicka maupun Harjanto dalam salah satu artikel Prof. Dr. Dadang Supardan, M.Pd, menyatakan, yang menghubungkan multibudaya dengan integrasi bangsa dalam tulisannya berjudul Antara Kebangsaan dan Kewarganegaraan, menyatakan bahwa bukannya pendekatan ethnocultural nationalism/ethnic nationalism maupun civic-nationalism, melainkan sebaiknya multicultural nationalism.
Menurut Adam (Supardan), sejarawan dan peneliti LIPI, yang melaporkan telaahannya dalam tulisan yang berjudul “Ancaman Disintegrasi Bangsa di Depan Mata”, menjelaskan bahwa:
Di berbagai daerah untuk pertama kalinya sejak Indonesia merdeka, terdapat gelombang pengungsi yang bukan akibat bencana alam. Di Pontianak dan sekitarnya terdapat ribuan keluarga Madura yang tinggal di “kamp-kamp pengusian” tanpa kejelasan dan nasib dan masa depannya. Di NTT menjadi tempat penampungan lebih dari seratus ribu warga eks Timor Timur… Di Medan terdapat ribuan pengungsi Aceh. Menurut sebuah catatan, kini telah terdapat lebih dari sejuta pengungsi di seluruh Indonesia. Mereka adalah warga negara yang terlempar dari rumahnya akibat “perang saudara” dan menjadi 33 suatu komunitas orang asing di negeri sendiri… belum lagi kasus-kasus Aceh, Poso, dan Irian Jaya, dan Ambon.
Pendidikan multibudaya yang sarat dengan penghargaan, penghormatan, dan kebersamaan dalam suatu komunitas yang majemuk. Menurut Blum dalam salah satu artikel Prof. Dr. Dadang Supardan, M.Pd, menyatakan bahwa:
Multibudaya meliputi sebuah pemahaman, penghargaan dan penilaian atas budaya seseorang, dan sebuah penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain. Ia meliputi penilaian terhadap kebudayaan-kebudayaan orang lain, bukan dalam arti menyetujui seluruh aspek dari kebudayaan-kebudayaan tersebut, melainkan mencoba melihat bagaimana kebudayaan tertentu dapat mengekspresikan nilai bagi anggota-anggotanya sendiri.
Kata kunci dalam pendidikan multibudaya tersebut, yakni pengakuan adanya perbedaan dan penghargaan, dua kata yang selama ini sering dikontraskan. Dengan pendidikan multibudaya peserta didik diarahkan pada pemahaman dan pengimplementasian keterampilan sosial seperti sikap toleransi, cinta damai, cinta tanah air, bersahabat dan sikap sikap lain dalam menunjang kehidupan yang harmonis.
- Implementasi Nilai-nilai Pendidikan Karakter dan Multikultular dalam Praktek Pengajaran di Lingkungan Akademik
Internalisasi nilai-nilai pendidikan karakter dan multikultural dalam proses pengajaran dilakukan secara tersirat (Hidden Curriculum). Sebagai contoh siswa mempelajari sejarah, dalam proses pembelajaran sejarah diharapkan siswa dapat menemukan dan memahami nilai-nilai kerjasama, toleransi dari berbagai latar belakang yang berbeda para pendahulu kita untuk mewadahi perbedaan-perbedaan tersebut dalam naungan Republik Indonesia.
Melalui pendekatan konstruktivisme, siswa diberi keleluasaan untuk mencari data dan guru sebagai fasilitator dan senantiasa memberikan penekanan sehingga apa yang ditemukan oleh siswa menjadi pengetahuan baru, maupun apa yang disampaikan oleh guru didalam kelas merupakan sesuatu yang nyata di lapangan. Selain itu, melalui pendekatan ini siswa memiliki keterampilan sosial sebagai suatu pendidikan intelektual yang mencakup keterampilan bernalar atau berpikir juga bertindak (Problem Solving).
Refleksi (Rusman : 2011) adalah cara berpikir tentang apa yang baru terjadi / baru saja dipelajari. Refleksi adalah berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Pada tahapan ini siswa dibiarkan memahami, meresapi, dan siswa dibebaskan untuk menimbang, menilai, dan melakukan diskusi dengan dirinya sendiri (learning to be). Di saat siswa melihat lebih jauh di luar jendela kelas, diharapkan menjadikan dirinya berfikir betapa banyak masalah yang dihadapi bangsa ini, dari situ guru dengan penekanannya mengarahkan dan membentuk pola pikir sehingga terarah menuju pola pikir yang diharapkan, yakni siswa yang senantiasa memiliki sikap yang lebih toleran, cinta damai, peduli sosial, dan hal lain yang menunjang terciptanya bangsa Indonesia yang harmonis.
KESIMPULAN
Sebagai bangsa yang memiliki keberagaman yang luar biasa. Guru Indonesia bisa menanamkan nilai yang membentuk siswa menjadi toleran dan cinta perdamaian. Konflik yang berbau sara memang dapat ditanggulangi dengan turunnya aparat keamanan ke jalan, namun hal tersebut tidak akan pernah bisa menyelesaikan permasalahan secara menyeluruh.
Hal yang harus diperkenalkan kepada siswa adalah pendidikan multikultural, dimana dalam pendidikan multikultural siswa diberikan pemahaman dan pengetahuan tentang perbedaan. Pengetahuan yang menyeluruh tentang konsep perbedaan akan membuat siswa mengaggap perbedaan sebagai bagaian dari anugerah Tuhan.
Dalam proses penyampaian nilai, guru bisa menyelipkan tentang nilai-nilai toleransi dan multibudaya di dalam mata pelajaran yang sedang di sampaikan namun tidak melupakan dan mengabaikan materi pokok.
Daftar Pustaka:
BeritaKawanua. (2011). Indonesia Sebagai Negara Multikultur. [Online]. Tersedia: http://beritakawanua.com/berita/nasional/pidato-di-unesco-sby-sebut-indonesia-sebagai-negara-multikultural-.html. [4 Maret 2012].
Embun, Dinda. (2007). Membangun Karakter. [Online]. Tersedia: http://embundinda.multiply.com/journal/item/36/Membangun_Karakter. [3 Maret 2012].
Lihatberita. (2011). Taun Ajaran Baru akan Terapkan Pendidikan Karakter. [Online]. Tersedia: http://www.lihatberita.com/2011/05/tahun-ajaran-baru-akan-terapkan.html. [3 Maret 2012].
Ma’ruf, Hamka Mujahid. (2010). Pendidikan Karakter. [Online]. Tersedia: http://himapips.blogspot.com/2011/02/pendidikan-karakter.html. [3 Maret 2012].
Sudrajat, Akhmad. (2010). Definisi Pendidikan Menurut UU No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS. [Online]. Tersedia: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/12/04/definisi-pendidikan-definisi-pendidikan-menurut-uu-no-20-tahun-2003-tentang-sisdiknas/. [3 Maret 2012].
Supardan, Dadang. ( – ). Pendidikan Multibudaya. Artikel.
0 comments:
Post a Comment