Mungkin Dandelion

Untukmu..
Aku tulis surat ini untukmu, seandainya kita bisa bertemu dan bertegur sapa secara langsung alangkah indahnya. Aku tulis surat ini dengan sehat tanpa kurang sesuatu apapun. Pfft aku bercanda.. kamu tahu kita berdua selalu merasa kurang bukan, terutama tahun-tahun dalam hidup kita saat kita beranjak besar. Maksudku aku ingin menulisnya dengan beranjak dewasa tapi aku “kita” sampai aku menulis surat ini aku masih saja tidak bertanggung jawab dan pemalas juga penakut, aku harap kamu disana semakin baik dan telah mencapai pencarian dan penemuan dirimu sendiri secara hakiki, kau tahu maksudku bukan.
Aku kirimkan surat ini karena hari ini, atau beberapa hari ini hidupku merasa menyedihkan sekali, keinginan untuk pergi dari dunia ini terbesit saja selalu, Tapi kita tahu bukan bahwa kita terlalu pengecut untuk pergi lari dari hidup kita sendiri. Ini hal yang sangat rumit bukan, tapi entah rasanya sebaiknya akan kutulis saja semuanya, setidaknya tidak buruk-buruk amat, lagi pula catatan kehidupan seseorang selalu menarik untuk dibaca, apalagi catatan tentang dirimu sendiri, seperti cermin yang kau tatap  dan bertanya-tanya telah menjadi seseorang yang berbeda bahkan untuk beberapa waktu. sejak kapan aku sepert ini. Hidup maksudku, aku bisa bilang sangatlah aneh, aku kira semakin lama kita kita hidup semakin banyak pula yang kita dapat nyatanya semakin banyak sekali yang hilang. Teman-teman, sahabat orang-orang yang kamu cintai, setidaknya aku rasa begitu semuanya perlahan-lahan hilang dan pergi, seperti dandelion yang ditiup angin, entah angin yang berasal semilir di alam atau aku seperti sengaja meniup dandelion agar terbang pergi, kamu tahu maksudmu bukan. Aku berpikir bukan mereka yang perlahan-lahan hilang tapi aku dan kamu yang perlahan lahan hilang dan menjauhi mereka. Klise sekali bukan, bahwa, entah beberapa ratus film menampilkan adegan dandelion yang tertiup angin seolah olah sesuatu yang penting sedang beranjak pergi. Sejak kapan dandelion sangat penting dalam hidupku? aku kira aku hanya bersikap umum saja, bahwa dandelion yang tertiup angin adalah simbol kepergian atau kebebasan atau perpisahan, atau misteri. Nyatanya kita, maksudku aku sendiri tidak pernah meniup bunga dandelion. Semoga saat-saat nanti kau membaca suratku ini kau sudah merasakan bagaimana rasanya meniup bunga dandelion dengan napasmu atau dengan angin yang semilir menerpamu. Aku selalu membayangkan bahwa jika kau suatu saat berkesempatan memegang dandelion, kau berada di padang rumput yang indah dan hijau di saat hari cerah sehabis hujan dengan pelangi yang melengkung. Aku melihatnya digambar, setidaknya itu terlihat indah dalam pikiranku dan kau dengan seseorang yang kamu sayang sambil memegang dandelion dan bercerita pada masa mudamu pada orang itu “Hei tahukah bahwa aku pernah membayangkan hal ini, membayangkan aku berada dipadang rumput memegang dandelion bersama orang yang spesial” kau berkata bergitu lalu menceritakan banyak hal pada orang yang spesial itu, aku mendoakan mu sekarang semoga kau bisa sampai kesana. Tapi tak banyak memang bahwa disekitar lingkungan kita tumbuh dandelion dan padang rumput, bisa jadi kau hanya membawa bunga-bunga yang lain atau semak perdu atau tanaman apa saja yang jika kau tiup maka biji-biji nya terbang, oh kau bisa menggunakan buah Kapuk. Kemudian, alih alih kau berada dan berdiri dipadang rumput yang hijau kau malah cuman bisa berdiri di lapangan tandus seadanya tanpa seorang pun menemanimu, menyedihkan, aku minta maaf, oh lihat aku juga memang sangat pesimis dan tidak positif sama sekali aku harap kau sendiri maklum, maafkan aku lagi. Oh iya jika kau ingin bunga kapuk saja, aku kira pohonnya masih ada mungkin, di sebelah lapangan Voli yang tandus di sisi jalan sana, entahlah kau tahu bukan bahwa hari-hari ini, maksudku jika kau tahu bahwa akhir-akhir ini aku mengunci diri di dalam rumah. Bisa dibilang aku takut keluar rumah, aku harap sekarang ketika kau baca tulisan ini kau adalah pribadi yang berani.
Hei aku terlalu banyak bicara tentang dandelion dan bunga yang akan kau tiup bukan ?, maafkan aku, sampai sekarang saat aku menulis surat ini aku masih terlalu banyak berfikir dan pikiranku sangatlah abstrak. Sampai harus kesana-kemari hanya untuk menulis hal-hal ini. Hei ingatkah kamu bahwa saat kau “aku” merasa sedih kita selalu melakukan tindakan bodoh bukan. Masih ingatkan kamu ketika ibu kita kecewa karena menghilangkan sebuah ponsel dan kita pergi ke sebuah tempat yang jauh dan berdebu di situs konstruksi sebuah pembangunan waduk dan kita melewatinya saja dan diam beberapa saat melamu dan memandangi orang-orang yang bekerja kesana kemari dengan truk dan helm helm keselamatan mereka, dan yang aku ingat bahwa itu dibangun orang perusahaan Tiongkok. Aku kira waktu itu kita tak ada tujuan sama sekali untuk kesana, namun saat sadar atau tidak kita hanya ingin mencoba sesuatu yang baru atau jangan jangan aku hanya ingin pergi kesana dan menemukan sesuatu yang aku saja tak tahu. Seandainya kau ada disini saat aku menulis ini, aku ingin menanyakan berbagai hal mengenai apa yang telah kita temukan dalam hidup apakah kau sudah menemukan yang kau cari? Atau menemukan apa yang seharunya dicari?. Oh maafkan aku, aku terlalu banyak permintaan, sedangkan diriku saja tidak banyak berusaha, maafkan aku karena mungkin banyak menyusahkan mu. Hei kau ingin dengan tidak mengenai mimpi yang aku alami tempo hari, aku harap aku masih ingat detilnya, karena ini mimpi yang sangat seru dan aneh jika tidak ditulis dan diceritakan, setidaknya menurutku sekarang saat menulis surat ini, mimpi ini bercerita tentang sesuatu yang pokoknya tak pernah terpikirkan oleh ku, ini ceritanya mengenai seorang anak muda yang suka mengambar, aku kira kita suka menggmabr, jika kau buka catatan sekolah kita dahulu, aku sih masih suka tertawa, heran dan takjub dengan apa-apa yang kita torehkan di belakang buku catatan sekolah kita, oh aku ngelantur lagi ini mimpi yang aku maksud, coba kau baca ini:
Dia adalah seorang remaja yang hobi menggambar, tidak bagus memang tiap gambar-gambarnya. Namun suatu hari dikamarnya yang gelap, diatas meja belajar diterangi lampu yang merunduk dia menggambar sebuah lansekap padang rumput penuh batu-batu besar yang menjulang-julang diantara rumput yang rapih tanpa sapi atau domba-domba atau bahkan para pemburu foto. Batu-batu itu seperti sengaja diletakan disana oleh seseorang yang sangat besar. Seperti stonehenge, namun acak.
Padang rumput diceritakan oleh si Penggambar tersebut dijaga oleh tiga ksatria raksasa tinggi mereka mungkin sekitar 15 meter. Ksatria dengan jubah baja abad pertengahan. Ksatria pertama menggunakan tameng dan pedang satu tangan. Ksatria kedua, memengang pedang bastard atau pedang yang sangat besar yang jika diayunkan sangat lambat dan harus menggunakan dua tangan hampir sama dengan tinggi dirinya. Ksatria yang ketiga, dia menggunakan tobak panjang biasa yang lebih tinggi darinya.
Saat dia menggambar, dia terlempar ke padang rumput tersebut, seketika horizon hijau segar membentang depan matanya. Berakhir limbung linglung bingung tergeletak dirumput yang hijau, namun ia tidak sendiri. Anak-anak seumuran dirinya berjatuhan dari langit seperti katak yang dijatuhkan burung, tidak tahu mereka berasal. Tiba-tiba para ksatria raksasa tersebut merasa terganggu oleh hujan anak-anak remaja tersebut.
“RRRAAAWWWRRRRR” salah satu ksatria melolong keras.
Ketiga raksasa itu berlari ke arah hujan anak-anak remaja, dan anak-anak yang bingung seketika berlarian ke sisi lain padang rumput sambil berlari-kelok diantara batu batu yang menjulang sementara ketiga ksatria raksasa berlari diiringi suara kaki mereka yang menghantam tanah kuat-kuat sampai bergetar. Sang ksatria berpedang besar berhenti dan memasang kuda-kuda, kemudian dia mengayunkan pedangnya yang besar dengan sangat kuat, tiba-tiba angin berhembus seperti taifun dari momentum ayunan pedangnya, rumput-rumput tersibak seperti disisir kebelakang dan seketika tanah padang rumput bergetar dan merekah-rekah lalu longsor besar terjadi bersama batu-batu yang berdiri, semuanya tergelincir deras, pekak jerit anak-anak remaja, laki  dan perempuan bersautan termasuk si Penggambar dan seketika dataran menjadi landai akibat kekuatan ksatria raksasa tersebut.
Ternyata memang benar adanya, bahwa padang rumput tersebut berada di bibir jurang, tepat anak-anak remaja tersebut berlarian termasuk si Penggambar kearahnya. Bersama tanah guncang yang longsor, ketiga raksasa ikut tergelincir dengan anak-anak remaja tersebut bersama batu, bersama tanah, bersama pekik yang semakin hilang menyatu kebawah, kedasar jurang. Seketika semuanya gelap di mata si Penggambar. 
Saat sadar, si Penggambar melihat anak-anak remaja tergeletak diantara timbunan tanah dan mereka masih bernapas. Anak-anak remaja bangun satu persatu dari ketidaksadaranya. Ketiga raksasa ikut bangun. Para remaja terbelalak dan berdiam diri sulit bergerak karena takut, entah apa yang akan dilakukan ketiga raksasa tersebut kepada mereka. Membayangkan apa yang telah terjadi diatas sana, mereka hanya bisa berdiam menatap.
Namun, ternyata tak disangka ketiga raksasa itu bangun dan malah berlari menjauh dari sekumpulan anak remaja tersebut, berlari ke arah hutan seperti budak yang dipanggil tuannya, dengan derap langkah kaki-mereka yang kuat dan mengguncang, semakin jauh dan jauh sampai benar-benar tidak terasa lagi ditanah. Mereka bernapas lega, walau dengan rasa bingung dengan apa yang terjadi.
Dalam permainan tersebut ada petak petak seperti jalan setapak.. dan sepertiinya kami harus tetap dalam petak tersebut. Saat kami berjalan tiba tiba datanglah serangan dari remaja remaja lain... kami bermain game dan kami menang, namun banyak sekali yang hilang.
Tiba tiba aku terus berjalan dan menemukan 4 orang berpakaian primitif terdiri dari 3 orang laki laki dan 1 orang perempuan. Katnaya mereka mendiskusikan tentang apa yang mereke alami akhir akhir ini, setelah aku mendengarnya bahwa itu Cuma tanda-tanda dari pubertas. Lalu aku pun menikuti mereka dari atas tebing kami turun mnuruni tangga. Dibawah tebingada sebuah rumah dari tumpukan batu berdiri dsebuat pantai karang. Saat aku sampai kebawah, ketua asuku tersebut membawa 4 remaja tersebut untuk dimandikan di cekungan air tawar yang ada di pinggir pantai. Lalu aku ikut membasuh mukaku di cekungan tersebut, tiba-tiba ombak besar datang dan menghampiri diriku, dan ditariknya aku. Namun saat itu terjadi aku memegang erat-erat pada bibir cekungan tadi. Aku ditarik terus oleh ombak. Tiba tiba aku sudah berada di pinggir hutan dan bertemu dengan orang orang yang tidak aku kenal, sepertinya remaja yang bertahan hidup. Aku pun kembali kedaratan.
Setelah itu aku berjalan-jalan sedikit dan menemukan sebuah bangsal, entah itu apa. Namun dari beberapa orang remaja itu ada yang membuat kesalahan. Salah seorang meminum air berwarna kuning dalam gelas yang ada di dalam bangsal tersebut. Ternyata itu adalah minuman bagi setan perempuan penunggu bangsal tersebut. Menggila lah kami, tetiba menjadi horror kami tunggang langgang. Dan saat itu kami mendapatkan kutukan.. beberapa dari kami menjadi srigala, ada yang menjadi tikus, ada yang menjadi ular, ada yang menjadi bekicot. Sesuai dengan diri mereka sendiri, sementara aku saat aku berlari aku meloncat ke jurang dan berubah menjadi burung laut. Entah kenapa.. aku menjadi terbang dan itu sangat sulit. Lalu aku belajar bahwa agar hemat energi aku harus mneggunakan datangnya arah angin untuk naik.. aku naik terus ke atas dan melihat pemandangan yang megah, sebuah gedung raksasa dibangun dipinggir pantai dan sebuah jembatan pun ada. Lalu aku kemabli turun dan melihat remaja remaja tersebut dan sangat menyedihkan. Tubuh mereka masih hewan namun dengan wajah manusia. Entah apa yang terjadi selanjutnya, tiba tiba aku berada dengan teman-teman ku dan menceritakan mimpi ini sambil berjalan. Sampailah kami di jembatan dipinggir tebing dengan lubang menganga, kami mencoba menambal lubang tersebut dengan kayu seadanya. Saat kami  berusaha, sebuah mobil lewat dengan buasnya.. lalu berpapasan dnegan mobil lain, namun mobil hitam itu malah menabrak mobil tersebut dan tidak mau mengalah. Saat seseorang dan aku mencoba melerai nya si supir terbut malah menabrak seseorang tadi, dan aku marah dan ternyata saat aku tanya kenapa ia bertingkah seperti itu, karena ia membwa orang amerika. Bodohnay tinngkah anda dalam hati ku berpikir.
Aneh sekali bukan, aku ceritakan sebisaku saja padamu, karena pada dasarnya tiap-tiap mimpi itu sangatlah aneh, semakin kau mengingatnya semakin kau lupa dan hilang begitu saja dari otakmu maka dari itu, dari sebagian besar mimpi-mimpi yang aku setidaknya ingat maka akan lupa nantinya, seperti pula mimpi-mimpi pada kenyataan, kau mengerti maksudku bukan. Seprti itulah mungkin yang aku ingin tulis, sampai nanti aku jika merasa gusar atau jatuh aku akan kembali menyapamu, karena kau “aku” yang setidaknya aku miliki, untuk saat ini.

0 comments:

Post a Comment

My Instagram