Yang Tidak selesai 1

Jika kenyataanya siang hari memeras betul keringatmu sampai kau benar-benar sangat penat. Ketahuilah tiap-tiap manusia yang lelah itu memiliki cara-cara sendiri untuk meringankan sedikit bebannya. Cara yang bahkan sederhana dan sampai yang rumit, dari yang mahal sampai yang irit, itulah ketika aku menyadari bahwa dunia ini sangatlah beragam dan aku terlalu banyak berfikir dalam “cara-cara manusia” untuk menjalani hidup, boleh bilang aku bodoh namun aku menjadi pribadi yang pemaaf. Faktanya tiap hari aku harus berkutat dengan anak-anak manusia yang beraneka ragam, menjadi seorang pengajar bukanlah hal mudah namun tidak juga sulit. Padahal, orang yang terlalu banyak berfikir sagatlah tidak cocok untuk menjadi pengajar, karena pikiranmu akan mebunuh dirimu sendiri dan pekerjaamu. Menjadi pengajar setidaknya menbuat hari-hari diakhiri rasa syukur, ketika aku pulang bekerja aku selalu berkata pada diriku sendiri “aku hidup, aku masih hidup” begitu seterusnya setiap hari sehingga tak setiap kali aku merasa sangat tidak suka akan pekerjaan ini semakin dalam pula perasaanku semakin dalam. Aku bersyukur sekaligus tidak bersyukur dengan apa yang aku jalani, ini tidak akan cukup untuk membunuhku. Lalu apa yang benar-benar menyakitiku? Adalah ketika aku tahu betapa banyak beban didunia ini yang ditanggung oleh tiap-tiap dari mereka yang aku temui, namun aku tidak pernah berusaha dan tidak cukup mampu meringankannya.
Aku sering melihat beberapa murid mengutuk diri mereka sendiri dengan rasa kepercayaan diri yang berlebih atau keceriaan yang menyedihkan atau bahkan kepalan tangan serta pemikiran-pemikiran liar dengan tidak diimbangi nyali yang besar atau jika aku beruntung, aku  menemukan mereka seperti air bah yang menyapu kemuraman ruangan dengan sekali sapuan ajaib seketika padang gersang dan busuk menjadi sesuatu yang indah dan kau menyesal untuk tidak kembali. Seperti itu aku menjelaskan murid-muridku, nyatanya mereka tidak sadar bahwa mereka membawa tas yang sangat besar beberapa orang membawanya kedalam kelas beberapa yang lain meninggalkanya di pintuk kelas beberapa lagi menyimpannya dalam-dalam dilemari besi rumahnya, yang terkahir yang kadang membuatku sedih. Namun bau-bau busuk dari mereka masih tercium terutama mereka yang mebawa beban berat yang seharusnya bisa dihilangkan begitu saja, entah metafora apa yang aku tulis.
“kadang saya tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan Farhoot Abyss, Kang” seorang pemuda potongan mahasiswa semester menegah tidak terlihat terlalu tua namun tatapan mata dan raut mukannya menunjukkan tipikal orang A. Orang A adalah orang yang tak perlu bersusah payah untuk berjabat tangan dan mengenalkan dirimu pada orang lain, entah speberapa dalam dan lebar jurang yang memisahkan diantaranya dia akan merentangkan jembatan yang lebar dengan mudahnya untuk ia sebrangi. Aku menyebutnya orang A. Dia orang A.
Selama hidupku aku masih saja belum percaya dengan kalimat “janganlah menilai buku dari sampulnya, bodoh!”. jika boleh saja tiap-tiap orang yang kutemui, beberapa dari mereka seperti  berbau busuk dari jiwanya. Kadang cara bicara mereka membuat ku mual dan membuat diriku ingin menumpahkan kopi panas kedalam hatinya sehingga, bualan-bualan dan omong kosong repertoar itu luruh sehingga kebohonganya terlihat. Mereka yang pergi telah mengajarkan banyak padaku. Namun tidak dengan pemuda yang satu ini, dia orang yang membawa apasaja dalam pikirannya yang dibutuhkan oleh lawan bicaranya.
“iya, pemikirannya dia memiliki jiwa yang ringan dan berani” aku merespon pembicaraan dengan seperti itu.
“jiwa yang ringan gimana, kang ?” dia bertanya, dan aku sudah menduganya. Walaupun sebenarnya dia agak mengerti, dia hanya membangun jembatan tersebut.
“dia bisa meluapkan apapun yang dipikirkannya, toh walaupun sekarang dia dapat konsekuensinya”
“jiwa nya bebas ya kang ?”
“saya kira seperti itu, tidak banyak memang orang yang seperti itu, orang-orang yang tidak mau luput dari penglihatan manusia lain. saya sendiri kadang iri dengannya, bahwa dia memiliki keberanian seolah-olah ada seribu bala tentara dia bisa membawa dirinya kepuncak yang lebih tinggi atau dia seorang one-man-army yang tak takut mati, entahlah”
“tapi banyak bilang dia cuman bodoh kang, hehehe.. bukan maksud untuk menghina, tapi kadang dia itu suka tidak pernah berfikir sebelum berbicara”
“bodoh atau tidak itu tidak bisa kita ukur, dan saya tidak percaya pada orang yang tidak berfikir sebelum berbicara”
“dia berfikir bahwa dengan berbicara dia bisa memenangkan atas dirinya sendiri dan berdiri diatas semua orang, itu yang menjadikannya lebih”
“gak ngerti, kang hehehe”
“Kamu pernah merasakan duduk dibangku sekolah kan? Maaf maksudku bukan seperti kalimat “memangngya kamu gak pernah makan bangku sekolah!“ bukan seperti itu, ini harfiah”
“iya kang, saya kuliah”
“Selama saya belajar dan mengajar, keberanian dan kepengecutan ada dalam garis yang tipis” aku menghela napas dan meminum kopi hitam yang menyeringaikan uapnya karena perbedaan suhu yang kentara dan hujan pun mulai reda dan malam makin dingin.
“Suatu hari, aku mengajar dikelas yang sangat riuh dan penuh dengan mereka yang menurut pengajar lain ‘kacau’”
“tiap sekolah ada kelas yang seperti itu kang, aku rasa”
“benar sekali. Suatu hari, aku masuk untuk mengajar dikelas yang kacau itu dan aku tidak akan heran bahwa kelas riuh dan semua murid tidak menganggap kedatanganku” Aku meminum kopi lagi. Pemuda itu hanya memperhatikan dan seolah-olah ingin menebak jalan cerita.
“Aku memulai pelajaran seperti biasa, menyuruh berdoa dan mengabsen, keriuhan tetap saja terjadi, aku merasa tidak bisa berbuat apa-apa...


Yang tidak selesai di Tanggal 7 agustus 2016

 

0 comments:

Post a Comment

My Instagram